Friday, August 12, 2011

Prof Hembing Wijaya Kusuma

Bicara pengobatan alternatif, siapa yang tak kenal nama Hembing? Tiap kali menyebut nama itu, kita selalu ingat sosok tinggi besar yang kerapkali muncul di stasiun-stasiun televisi bicara tentang dunia pengobatan alternatif, tumbuh-tumbuhan yang berkhasiat obat, juga dakwah-dakwah yang selalu segar. Setiap acara yang dihadiri Hembing sebagai pembicara selalu dikerumuni pengunjung, sebab gaya bicaranya yang selalu segar dan mudah dicerna itulah salah satu daya tariknya.


Sayang, PAKAR terapi kesehatan herbal ini telah meninggal dunia pada Senin (8/8/2011) sekitar pukul 01.30. Ayah satu putri dan dua putra ini meninggal pada usia 71 tahun di Rumah Sakit Medistra, Jakarta.

Siaran pers The Hembing Center menyatakan, pria kelahiran Medan ini telah dimakamkan di Cibubur, Jakarta Timur, kemarin siang. Dalam bukunya yang terkenal, Hidup Sehat Cara Hembing, dia memaparkan aneka tanaman asli Indonesia yang bisa digunakan sebagai terapi kesehatan, mulai dari penyakit kulit hingga terapi kanker.


Alumni Chinese Medical Institute-Chinese Pharmacology and Acupuncture ini aktif di dunia pendidikan sejak 1975. Awalnya Ia diangkat sebagai penasihat di almamaternya, lalu beralih menjadi penasihat konsultan pada Journal of Kyoto Pain Control Institute Jepang pada tahun 1975.

Hembing lantas menjabat sebagai Wakil Presiden World Academy Society of Acupuncture Korea Selatan pada tahun yang sama. Sejak Universitas Bung Karno Diresmikan, Hembing diangkat sebagai dewan kurator dan senat guru besar oleh Ketua Yayasan Pendidikan Soekarno Rachmawati Soekarnoputri.

Dedikasi putra pasangan HS Chong dan Kuan Lie Thau ini pada naturopati membuahkan sejumlah penghargaan. Pada 1987, Hembing mendapat penghargaan dari Academician of Merit Award dari Lembaga International Dag Hammerskjold dan Diplomatic Academy of Peace dari Malaga, Spanyol.

Dari dalam negeri, pengabdian Hembing diakui pemerintah lewat penghargaan Bintang Jasa Utama dan tanda jasa dari Menteri Lingkungan Hidup atas upayanya menggunakan tanaman obat sebagai pengobatan tradisional. Total penghargaan yang dikumpulkan Hembing mencapai 30 buah, baik dari dalam negeri maupun luar negeri.

Prof. HM. Hembing Wijayakusuma, begitu nama lengkapnya. Lebih 52 tahun menapakkan kakinya di dunia pengobatan alternatif, bahkan lewat ilmu yang didalaminya ia menemukan berbagai macam metode pengobatan diantaranya sebuah penemuan sangat mengagumkan yang dinilai oleh dunia internasional sebagai salah satu dari beberapa karya besar di dunia pada abad ini yaitu Acupuncture Bee Venom atau pengobatan dengan sengat lebah yang dikombinasikan dengan terapi akupuntur.

Penemuannya yang langka ini telah mengantarnya mendapatkan penghargaan The Star of Asia Award- sebuah bintang penghargaan tertinggi dunia untuk bidang pengobatan alternatif. Hembing menjadi orang pertama di Asia dan orang ketiga di dunia yang mendapat penghargaan ini. Selain itu, ia juga mendapat segudang penghargaan dan titel dalam bidang pengobatan baik dari dalam maupun dari luar negeri.

Hembing lahir di sebuah rumah kontrakan kecil di Jalan Serdang Gang sado, Medan pada tanggal 10 Maret 1940. Anak keenam dari sebelas bersaudara keluarga H.S. Chong dan L.T. Kwan ini dalam menapaki karirnya hingga sukses seperti sekarang, tidaklah mudah. Perlu perjuangan dan pengorbanan baik waktu, materi, bahkan perasaan.

“Pada awalnya, berkecimpungnya saya dalam dunia pengobatan seperti sekarang ini tidak terlepas dari ketertarikan saya terhadap pengobatan tradisional yang semua ini dipengaruhi latar belakang keluarga (embah buyut) yang memiliki ketrampilan dalam pengobatan tradisional dengan memanfaatkan tanaman obat. Sejak kecil saya sudah terbiasa berkecimpung dalam bidang ini, misalnya dengan membantu embah buyut saya yang bernama Y.F. Max mencari dan meracik tanaman obat,” ujar Hembing  saat diwawancara wartawan media Toga News.

Dengan latar belakang pengalaman, niat dan motivasi dari keluarga serta keyakinan yang kuat, membulatkan tekadnya untuk menggali dan mempelajari pengobatan tradisional warisan nenek moyang secara serius dengan menempuh pendidikan formal kedokteran timur pada perguruan tinggi Chinese Medicine Institute, dan pada Chinese Acupuncture institute, Hongkong dan lulus pada tahun 1970. Bahkan pada tahun 2002 Hembing dikukuhkan sebagai Honorary President pada Association for Advancement of Chinese Medicine, sebagai Honorary Rector pada Chinese Acupuncture & Acupressure Institute, dan sebagai Honorary Profesor pada Chinese Acupuncture & Acupressure Institute, ketiganya di Hongkong.

Hembing yang mempunyai ikatan emosional sangat erat dengan almarhum H. Masagung ini di sela-sela kesibukannya menerima pasien yang tidak pernah surut datang ke kliniknya selalu menyempatkan waktu untuk membaca buku. Ia juga aktif menulis buku-buku yang berkaitan dengan dunia pengobatan, lebih dari 70 judul buku yang dihasilkannya.

Saat ini ia telah mempersiapkan beberapa judul buku yang akan diterbitkan Toko Gunung Agung yaitu mengenai terapi Moksabusi, terapi Akupresur dan sejumlah buku lainnya. Dalam menerbitkan buku-bukunya, ia sudah bekerjasama dengan beberapa penerbit di Jakarta. Semua itu ia lakukan untuk menjalin kerjasama dan memberikan dampak yang positif bagi penerbit maupun bagi Hembing pribadi.

Sebagai sosok yang akrab dengan dunia perbukuan, Hembing mengamati bahwa perkembangan buku di Indonesia semakin baik, hal ini terlihat dari semakin beragamnya buku-buku yang diterbitkan, juga semakin beragamnya tema bahasan pada buku itu sendiri. “Sayangnya, perkembangan tersebut tidak diimbangi oleh minat baca masyarakat yang saat ini cenderung masih rendah. Kalaupun ada beberapa kalangan memiliki minat baca yang cukup tinggi, itu masih terbatas pada buku-buku non ilmiah yang menurut saya terkadang kurang bersifat edukatif. Tak heran jika budaya bangsa ini sudah terpengaruh oleh negatifnya budaya luar yang bukan saja menanggalkan norma, namun juga etika,” ungkap Hembing.

Hembing yang sangat kagum pada Bethoven dan seorang sastrawan dari timur yaitu Lu Sun, serta Co Sin sastrawan dari Rusia, di sela-sela kesibukannya setiap hari berusaha membagi waktu untuk bersilaturahmi dengan anak cucunya. Makan bersama, diskusi, rekreasi, dan lain-lain menjadi pilihan keluarga ini. “ Mengingat ketiga anak saya telah berkeluarga dengan kesibukan masing-masing, intensivitas untuk berkumpul bersama tidak bisa setiap hari dilakukan, terlebih mereka tinggal di tempat yang berbeda,” kata pria yang ketat mengatur waktu untuk setiap aktifitasnya ini. Namun ia juga berusaha untuk bersilaturahmi dengan sanak keluarga termasuk sahabat, baik yang tinggal di dalam kota maupun di luar kota, sesuatu yang patut dicontoh, sesibuk apapun ia tidak melupakan silaturahmi.

Hembing memiliki falsafah hidup yaitu kemanusiaan. Menurutnya hidup di dunia ini sangat singkat. Oleh karena itu, bertindak dan bersikaplah sebagai manusia yang memiliki rasa kemanusiaan dan berikanlah kasih sayang, perhatian, dan bantuan kepada sesama umat tanpa memandang suku, warna kulit, agama. Bila manusia yang pada hatinya tidak memiliki rasa kemanusiaan akan menimbulkan sifat serakah, gila kedudukan/jabatan, kekuasaan yang semua itu sifatnya tidak abadi dan tidak dapat menolong manusia di akhirat kelak selain amal kebajikan selama di dunia.

Dalam hal makanan, Hembing tidak memfavoritkan jenis makanan tertentu. Selama makanan itu sehat, bergizi, halal dan terutama dari sayur-sayuran dan ikan yang bermanfaat bagi kesehatan. Makanan itu harus sehat dan disajikan secara bervariasi. Ia juga bicara tentang hobinya yang sejak kecil adalah membaca. Baginya buku bukan hanya berperan sebagai guru, namun juga sahabat terdekatnya.

Mengakhiri pertemuan dengan Toga News, Hembing sangat menaruh harapan yang besar pada perkembangan Toko Gunung Agung di tahun 2003 dan tahun-tahun berikutnya. “Sebenarnya saya kenal Toko Gunung Agung sudah sejak lama, khususnya ketika almarhum H. Masagung masih ada. Sebagai teman baik saya, beliau dan saya memiliki satu orientasi untuk mencerdaskan bangsa ini melalui sarana buku dan saya lihat hal itu sudah tercapai dengan baik. Semoga kerjasama yang telah kita jalin selama ini semakin baik dan orientasi untuk terus mencerdaskan bangsa melalui sarana buku dapat tetap eksis dengan hadirnya divisi penerbitan Gunung Agung yang saya pantau selalu menghasilkan buku-buku bermutu yang dibutuhkan masyarakat,” ungkapnya.

Karena itulah dengan senang hati Hembing mempersiapkan buku-buku yang bakal diterbitkan Gunung Agung selain sebagai jembatan mempererat hubungan baik dengan Gunung Agung. “Kiranya Gunung Agung semakin produktif untuk menerbitkan buku-buku yang berkualitas dengan harga yang terjangkau masyarakat, sehingga Gunung Agung turut andil menjadi Pionir dalam melahirkan generasi yang bukan hanya berinteligensi, namun juga bermoral dan berbudaya,” pungkasnya.

0 komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Space Iklan Anda